Tuhan memberikan seorang Penolong

Sebelum Tuhan naik ke Surga, Dia sudah mengingatkan bahwa Dia akan naik ke sorga tapi Dia tidak akan membiarkan murid-murid-Nya sendirian. Tuhan akan memberikan satu pribadi Penolong yang lain yaitu Roh Kudus. Saudara, pada waktu Tuhan ada di dunia ini, selama 3,5 tahun, Dia pergi ke sana kemari, melayani orang-orang sakit, melepaskan, memerdekakan, Dia 100% manusia tapi juga 100% Allah. Dia lapar seperti kita, makan seperti kita, Dia dibatasi juga, tidak bisa sembarangan pergi ke mana-mana. Ketika Tuhan naik ke Surga, Dia tahu kebutuhan kita, dan Dia curahkan Roh-Nya sendiri menjadi penolong bagi kita semua. Roh Kudus itu omnipresence, sehingga di mana pun Saudara berada, Tuhan sanggup menolong Saudara. Saudara tidak usah bingung dan Saudara bisa berdoa kepada Roh Kudus. Kenaikan Tuhan Yesus menjadi satu peristiwa penting, titik balik di mana murid-murid-Nya yang tadinya selama 3,5 tahun bisa merasakan kehadiran Tuhan Yesus secara fisik, tapi sejak ditinggalkan mereka bingung ke sana kemari seperti anak ayam kehilangan induknya. Ada yang mau kembali ke masa lalu, ada yang putus asa, bermacam-macam. Tuhan Yesus menjadi satu titik tolak bagi murid-murid-Nya dan bagi kita, bahwa Tuhan tetap bersama-sama dengan kita. Kita berjalan dengan iman kepada Tuhan Yesus Kristus, dan apa yang Saudara harapkan, pasti akan Tuhan tolong dan genapi dalam hidup Saudara. Saudara yang dikasihi Tuhan, pada hari ini kita boleh bersama-sama minta kepada Roh Kudus, kita butuh Roh Kudus. Semua butuh Roh Kudus. Para pemimpin kita beberapa waktu lalu mengingatkan kita untuk lebih banyak lagi berbahasa roh. Kenapa? Karena ketika berbahasa roh, Kita membangkitkan iman kita yang lemah. Mungkin ada yang ingin mundur, ingin berhenti, banyaklah berbahasa roh, kita akan dikuatkan kembali. Kita berbicara dengan Bapa di sorga, bahasa yang Iblis pun tidak akan bisa mengerti. Mengingatkan bahwa dalam diri setiap orang percaya ada Roh Kudus. Dan orang yang memiliki Roh Kudus pasti mengeluarkan Buah Roh. Saudara yang dikasihi Tuhan, ada yang belum menerima karunia Roh Kudus, tanda awal dari orang yang dibaptis Roh Kudus akan mulai berbahasa-bahasa yang baru. Baptisan Roh Kudus hanya satu kali, tapi kepenuhan Roh Kudus bisa berulang-ulang. Saudara harus minta. Saya setiap pagi minta diurapi oleh Roh Kudus. Kita terus butuh pengurapan Roh Kudus. Mari kita bersama-sama kembali minta pengurapan dari Roh Kudus, supaya Roh Kudus tetap tinggal dalam hidup kita. Tidak ada cara lain, supaya tidak mendukakan Roh Kudus, kita harus hidup kudus dan berjaga-jaga.

Baca selengkapnya......

Mimpi Di Atas Pohon Jambu

Saya paling senang pergi ke tempat tinggi untuk mengamati pemandangan sekitar dan menikmati berdiam dengan pikiran saya saat menikmati pemandangan itu. Tanpa saya sadari, kegemaran saya itu dimulai dari sebuah pohon jambu. Saya teringat masa kecil dulu, di belakang rumah kami ada pohon jambu air yang batangnya agak miring sehingga mudah dipanjat oleh anak kecil. Saya sering memanjat pohon itu untuk bermain, mencari jambu air, atau untuk menyendiri. Dari kecil saya sudah menikmati waktu menyendiri dan berimajinasi membangun mimpi. Saya paling suka memanjat hingga dahan yang paling tinggi, duduk di atasnya dan menikmati tiupan angin yang membuat dahan tempat saya duduk bergoyang.Kadang saya juga dapat mengamati apa yang terjadi di rumah tanpa harus terlibat di dalamnya. Saya diam-diam mengamati ibu yang bekerja di bawah pohon jambu, yang tidak menyadari bahwa saya ada di atas pohon mengamati dia. Saya seolah sejenak keluar dari dunia dan menjadi pengamat saja. Saya dapat menghindar dari ‘dunia’ saat ada di pucuk pohon jambu itu. Dahan paling atas pohon jambu adalah ‘tempat rahasia’ saya ketika ingin menyendiri, berimajinasi, bermimpi, berpuisi dan bahkan menangis atau berdoa.

Di atas pohon jambu ini pun saya sering memimpikan terbang dan berkeliling dunia, melihat banyak hal yang belum dapat saya lihat. Saya juga pernah bermimpi menjadi penolong bagi banyak orang, belajar hingga jenjang pendidikan yang paling tinggi meskipun orang tua saya tak mampu membayarnya, bahkan mengimajinasikan mimpi itu secara detil seperti bentuk drama. Ketika saya berimajinasi menjadi seorang dokter yang merawat pasiennya yang sakit dengan gratis, saya membayangkan apa yang saya katakan pada pasien itu, apa respons si pasien, dan bagaimana saya tetap dapat hidup meskipun tidak memiliki banyak uang. Dari kecil, sekitar usia 7-10 tahunan saya sudah bermimpi dan membuat rencana tentang bagaimana mimpi itu terjadi!!

Pohon jambu itu telah menjadi teman saya bermimpi. Saya merindukan kembali pohon jambu itu untuk mengucapkan terima kasih pada Tuhan. Karena keberadaan pohon jambu itu, saya memiliki waktu untuk membangun mimpi. Mimpi-mimpi yang tak pernah pudar hingga sekarang, bahkan mungkin akan segera terwujud. Saya memang tidak menjadi dokter, tapi saya menjadi konselor yang menolong orang lain tanpa orang itu harus membayar. Sekarang saya ada di Belanda untuk study dan ingin mengelilingi Eropa ( Betty Tjipta Sari )!

Baca selengkapnya......

Setia Mempertahankan Iman

Bacaan Alkitab hari ini: Ibrani 3
Agar kita bisa menikmati berkat-berkat yang tersedia di dalam Kristus, kita harus setia mempertahankan iman (3:14), sama seperti Kristus telah memberi teladan dalam hal kesetiaan sebagai Pemimpin rumah (umat) Allah dan seperti Musa yang setia sebagai pelayan dalam rumah Allah (3:1-2).
Kesetiaan Kristus sebagai Pemimpin dan Pembangun rumah Allah terbukti melalui diselesaikannya misi penebusan sampai tuntas. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus di kayu salib mengatakan “sudah selesai” (Yohanes 19:30). Sebagai ganjaran dari kesetiaan-Nya menjalankan misi penebusan, Tuhan Yesus dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat (2:9; bandingkan dengan Filipi 2:8-11). Kesetiaan Musa sebagai pelayan rumah Allah bisa kita baca dalam Kitab Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Walaupun Allah tidak mengizinkan Musa memasuki Tanah Kanaan, Musa tetap menjalankan tanggung jawabnya sampai akhir hidupnya.
Agar kita juga bisa setia untuk terus mempertahankan iman, ada tiga nasihat penting yang diberikan dalam bacaan hari ini: Pertama, jangan mengeraskan hati (3:7-8). Kita harus membangun kepekaan untuk mendengarkan suara Allah. Bila kita berbuat dosa dan kita mendengar teguran Allah, misalnya melalui pembacaan firman Tuhan atau melalui teguran saudara seiman, kita harus cepat bertobat. Kedua, jangan sampai hati kita menjadi jahat dan tidak percaya (3:12) Ketidakpercayaan adalah dosa yang paling utama yang bisa membuat kita tidak bisa memperoleh berkat Allah. Ketiga, kita harus berada dalam sebuah tim yang sehat, yang setiap anggotanya membiasakan diri untuk saling menasehati (3:13). Bertapa (menyendiri) adalah cara yang keliru untuk membangun kerohanian. Kerohanian harus dibangun dengan menerapkan firman Allah dalam kehidupan sehari-hari. [P]
Ibrani 3:14
“Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.”

Baca selengkapnya......

MENINGGALKAN KASIH MULA-MULA

Baca: Wahyu 2:1-7

"Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula." Wahyu 2:4

Apakah saat ini kita sedang bangga dengan kerohanian kita? Kita sudah melayani Tuhan dan terlibat aktif di gereja lokal yang terkenal? Melalui renungan ini kita diingatkan untuk tidak terlalu membanggakan diri karena yang berhak menilai 'kualitas' pekerjaan kita bukanlah manusia, melainkan Tuhan. Secara kasat mata mungkin kita melihat dan menilai bahwa gereja kita adalah gereja yang aktif dengan jemaat yang 'dewasa' rohani pula. Hal ini bisa terlihat dari jadwal pelayanan yang tak pernah kosong, mulai hari Minggu hingga Sabtu, gereja penuh dengan kegiatan: kebaktian umum, ibadah kelompok (sel), ibadah pria-wanita, ibadah doa puasa, ibadah pemuda dan sebagainya yang selalu dipenuhi dengan jiwa-jiwa.Keadaan ini tak jauh beda dengan jemaat di Efesus. Kepada jemaat di Efesus Tuhan berkata, "Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu." (Wahyu 2:2a). Jika kita perhatikan, jemaat di Efesus adalah jemaat yang dewasa rohaninya karena mereka setia, tekun, mampu membedakan guru-guru palsu (ayat 2), bahkan dikatakan: "...engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah." (ayat 3). Bukankah ini sudah cukup membuktikan bahwa jemaat Efesus setia dalam melayani dan hidup bagi Tuhan? Kurang apa lagi? Secara manusia, kekristenan mereka pasti dikenan Tuhan. Tetapi mengapa Tuhan masih mencela mreka? Mata Tuhan sanggup melihat jauh melampaui pikiran dan juga penampilan luar kita karena "...tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia,..." (Ibrani 4:13).

Jadi, Tuhan tahu keberadaan setiap jemaat dan individu yang ada di dalam gereja secara mendalam. Saat ini mungkin yang menjadi fokus kita adalah hal-hal yang tampak dari luar: jemaat yang banyak, organisasi gereja yang solid, aktivitas rohani (pelayanan yang padat), pula gedung gereja yang tampak megah dan besar dan sebagainya. Tetapi ada hal penting yang malah terabaikan, dan itulah yang sedang Tuhan ungkap terhadaap jemaat di Efesus ini. Ternyata banyak dari kita telah meninggalkan kasih mula-mula (ayat nas). Kita telah menggantikan kasih kita kepada Tuhan dengan pekerjaan atau aktivitas rohani yang ada. (Bersambung)

Baca selengkapnya......

MENINGGALKAN KASIH MULA-MULA #2

Baca: 1 Korintus 13:13

"Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih." 1 Korintus 13:13

Apa itu kasih mula-mula? Kasih yang mula-mula adalah kasih yang membawa kita kepada satu hati yang berkobar-kobar seperti semula ketika kita percaya kepada Kristus; hati yang begitu semangat untuk bersaksi, untuk memberitakan Injil; hati yang penuh cinta kepada Tuhan dan sesama; hati yang tulus iklhas tanpa pamrih untuk Tuhan.Mengapa kasih yang mula-mula ini penting? Kasih mula-mula ini sangatlah penting, karena hal ini merupakan dasar dari hubungan kita dengan Tuhan. Kita tahu bahwa kota Efesus adalah kota yang besar dan sangat terkenal pada waktu itu, yang tentunya orang-orang di Efesus punya pilihan untuk hidup dalam duniawi. Tetapi ternyata jemaat Efesus adalah jemaat yang luar biasa karena mereka tetap setia dalam melayani dan hidup bagi Tuhan; mereka masih mengutamakan perkara-perkara rohani sekali pun banyak sekali tantangan dan cobaan. Secara fisik mereka tetap melakukan pelayanan untuk Tuhan, tetapi pelayanan mereka tidak lagi digerakkan dan dibakar oleh kasih mereka kepada Kristus. Mereka terjerumus ke pekerjaan atau pelayanan rutinitas belaka. Hal inilah yang seringkali tidak kita sadari. Tanpa kasih yang menyala-nyala bagi Kristus, pekerjaan dan pelayanan yang kita lakukan tidak ada artinya. Tanpa kasih, semua tidak ada faedahnya bagi Tuhan. Karena itu kita harus ingat saat pertama kita percaya kepada Tuhan: saat kita bertobat dan berkomitmen untuk mengikuti Tuhan dan melayani Dia dengan segenap hati dan jiwa. Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa seseorang telah meninggalkan kasih mula-mulanya kepada Tuhan: 1. Tuhan tidak lagi menjadi prioritas utama dalam hidup kita. Mungkin kita masih aktif melayani Tuhan, tapi pelayanan itu tidak lagi timbul dari hati yang haus dan lapar akan Dia, melainkan hanya karena tugas dan rutinitas semata. 2. Timbul rasa malas untuk bersekutu dengan Tuhan secara pribadi. Waktu untuk berdoa, menyembah Tuhan dan merenungkan firmanNya berkurang. 3. Kita lebih disibukkan dengan urusan-urusan pribadi: keluarga, pekerjaan, hobi dan sebagainya. Oleh karena itu Tuhan mengingatkan, "...ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan." (Wahyu 2:5a, b).

Mari kita berkomitmen lagi untuk mengasihi Tuhan, lebih dari segalanya.

Baca selengkapnya......

SUDAH SELESAI


Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. (Efesus 1:7-8)


Alkitab menyatakan bahwa dosa itu identik dengan hutang. Konsekwensi dosa adalah mati/ kebinasaan yg kekal (Roma 6:23a band. Kejadian 2:17), maka harus ada nyawa untuk membayarnya, agar dosa itu dapat ditebus. Pengampunan dosa dapat terjadi apabila ada nyawa yang dipakai untuk membayar hutang/dosa itu. Pengampunan dosa itu ibarat seseorang yang punya hutang tapi dianggap lunas oleh si kreditor dimana si kreditor mengambil alih kerugiannya untuk membebaskan pihak yang berhutang itu. Itulah mengapa untuk penebusan dosa manusia, Tuhan harus datang ke dunia, menyerahkan nyawanya sebagai pelunasan hutang-hutang – yaitu dosa manusia – dengan cara mati di kayu salib. Pemahaman ini tidak dimiliki dalam agama-agama lain, sehingga seringkali ada banyak pertanyaan bahkan cibiran, mengapa Allah perlu hadir sebagai manusia hanya untuk mati di kayu salib, seolah-olah Allah lemah dan tidak-berdaya. Kematian Yesus bukanlah kematian 'martir' seperti kematian seorang syuhada yang berjihad, kematiannya bukan pula sebagai kekalahan dalam suatu peperangan. Namun, kematian Yesus adalah KEMATIAN-KURBAN, dimana Allah merelakan diriNya sendiri untuk dikorbankan demi kasih yang begitu besar untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang dikasihiNya. Sebelum penggenapannya, dalam hukum Taurat telah menetapkan hampir segala sesuatu disucikan, dan diampunkan dengan darah (yang dianggap nyawa), dan "tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan" (Ibrani 9:22). Ini dilakukan lewat domba yang dikorbankan diatas mezbah, berulang-ulang untuk setiap kali pengampunan hingga digenapi oleh darah dan kematian Sang Mesias. Darah yang dilambangkan sebagai nyawa ganti nyawa (konsekwensi dosa) telah digantikan oleh Anak Domba Allah yang sempurna, yaitu Yesus Kristus (Yohanes 1:29). Ini adalah sebuah kematian 'tukar-guling' yang merupakan 'win-win solution' (semua pihak diuntungkan) demi menebus kematian akibat dosa yang menjangkiti semua manusia keturunan Adam. Dari kenyataan dan pemahaman ini, kita umat Kristiani memandang betapa penting peristiwa Paskah bagi kehidupan manusia, oleh peristiwa Paskah manusia dimungkinkan masuk ke dalam kehidupan kekal.

Darah dari Anak Domba Allah yang tercurah di kayu salib menandakan berakhirnya periode Taurat, satu penggenapan yang sempurna karena darah dari Anak Domba Allah sendiri. Tuhan Yesus di kayu salib itu berkata "tetelestai – Sudah selesai!" (Yohanes 19:30), itu merupakan suatu ucapan kemenangan atas perseteruan terhadap dosa yang menyebabkan kematian kekal berganti menjadi anugerah kehidupan kekal bagi orang-orang yang mau menerima dan mengimani karya Kristus yang terbesar ini. "tetelestai" Menggunakan perfect tense Yunani yang bermakna penebusan telah dilaksanakan, sekali untuk selamanya, efeknya terasa hingga kini. Perfect tense dalam tata bahasa Yunani ini memiliki fungsi yang khas. Tidak ada padanan baik dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang mampu menyatakan makna yang terkandung di dalamnya secara utuh. perfect tense melibatkan tiga gagasan: tindakan yang berlangsung intensif; tindakan yang mengarah pada titik penyelesaian; dan keberadaan dari hasil tindakan. Proses yang dilibatkan dalam Perfect tense adalah proses yang telah mencapai penyelesaian dengan suatu hasil pasti dari sudut pandang pembaca.

* Yohanes 19:30
LAI TB, Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: 'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
KJV, When Jesus therefore had received the vinegar, he said, It is finished: and he bowed his head, and gave up the ghost.
TR, οτε ουν ελαβεν το οξος ο ιησους ειπεν τετελεσται και κλινας την κεφαλην παρεδωκεν το πνευμα
Translit Interlinear, hote {sesudah} oun {oleh karena itu} elaben {Dia menerima} to oxos {anggur asam} ho iêsous {Yesus} eipen {Dia berkata} tetelestai {verb – perfect passive indicative - third person singular, (sudah) selesai} kai {dan} klinas {menunduk} tên kephalên {kepala} paredôken {Dia menyerahkan} to pneuma {Roh}

Pada naskah papyrus Yunani kuno terdapat satu tulisan tanda terima pajak pada masa jajahan Romawi dulu tertulis kata "tetelestai" sebagai tanda bahwa itu telah dibayar dengan lunas. Dari pengertian ini, kata "tetelestai" juga mengandung makna bahwa hutang dosa itu telah dibayar dengan lunas dengan darah/ nyawa Sang Mesias. Karena itulah para Rasul menggunakan satu terminologi untuk mengungkapkan kebenaran ajaran keselamatan manusia dalam istilah hutang-piutang (lihat Kolose 2:13-14 bandingkan 1 Petrus 1:18-19, 1 Korintus 6:20).

Kata "tetelestai" adalah sebuah kata yang paling indah dari semua yang tertulis di Alkitab, suatu peneguhan tonggak sejarah dalah kehidupan manusia bahwa penebusan telah selesai, satu kali untuk selamanya, dampaknya terasa hingga kini. Kata "tetelestai" menyatakan sebuah babak baru kepada manusia-manusia yang mengimani karyaNya untuk masuk kedalam satu rekonsiliasi, persekutuan yang indah antara Allah sebagai Bapa dan manusia sebagai anak-anakNya, dan kehidupan yang kekal yang dianugerahkan sepada setiap orang yang beriman kepada Kristus (Yohanes 14:1-6). Dalam suasana Paskah ini, mari kita syukuri kebaikan Allah kita.

Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (1 Korintus 6:20)
by: http://portal.sarapanpagi.org

Baca selengkapnya......

Yesus Miskin?

Bacaan: Yohanes 10:1-21

Aku datang supaya mereka mempunyai hidup ... dan dalam segala kelimpahan.- Yohanes 10:10

Bukankah Alkitab berkata bahwa orang kaya akan sukar masuk ke dalam kerajaan surga? Bukankah Yesus kita miskin sampai-sampai Ia harus lahir di kandang yang hina? Bukankah Yesus pernah berkata kalau Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalaNya?
Geli juga mendengar sebuah pandangan ekstrim yang berkata bahwa menjadi miskin di dunia ini adalah kehendak Allah. Jangan keliru, kemiskinan tak membuat kita menjadi lebih rohani. Kemiskinan bukan berarti akan melicinkan jalan kita untuk masuk ke dalam kerajaan surga. Apakah Yesus benar-benar miskin seperti yang diduga oleh banyak orang? Berseberangan denganpandangan ekstrim itu, ijinkan saya dengan rendah hati menyampaikan beberapa argumen yang mungkin saja bisa mengubah cara pandang Anda tentang hal ini.

Ingat, Yesus lahir di kandang yang hina bukan karena Yusuf dan Maria tidak punya uang untuk cari hotel berbintang. Mereka mungkin telah telusuri semua hotel yang ada, bahkan Ritz yang sangat bergengsi itu telah didatanginya. Bagaimanapun juga suite room atau bahkan president room sudah terisi, sehingga tidak ada pilihan lain kecuali sebuah kandang domba yang sederhana. Yesus lahir di dalam kandang bukan karena Ia miskin, tetapi karena Ia rendah hati sehingga gembala yang sederhana bisa datang menyembahNya tanpa ragu.

Satu fakta lagi yang menunjukkan bahwa Yesus kita tidak miskin adalah Ia mengenakan jubah terusan yang sangat mahal. Itu sebabnya saat Ia disalib, jubahNya diperebutkan oleh tentara Romawi dengan undi karena begitu mahalnya jubah Yesus itu. Lalu bagaimana dengan pernyataannya bahwa Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepalaNya? Jangan keliru mentafsirkan, Ia mengatakan itu untuk meluruskan motivasi murid-muridNya.

Jangan takut hidup dalam kelimpahan, sebab itu kehendak Tuhan bagi kita. Orang kaya sukar masuk surga jika ia terikat dengan kekayaannya itu, dan itu bukan berarti orang miskin akan lebih rohani dan lebih mudah masuk surga. Masuk dalam kerajaan surga tidak ditentukan oleh kaya atau miskinnya kita tetapi ditentukan apakah kita sudah hidup dalam kehendak dan rencanaNya!

Orang kaya sukar masuk surga jika ia terikat dengan kekayaannya, namun kemiskinan juga tak membuat kita lebih rohani.by:http://www.renungan-spirit.com

Baca selengkapnya......

SIKAP DAN TANGGUNG JAWAB

Dikisahkan, sebuah keluarga mempunyai anak semata wayang. Ayah dan ibu sibuk bekerja dan cenderung memanjakan si anak dengan berbagai fasilitas. Hal tersebut membuat si anak tumbuh menjadi anak yang manja, malas, dan pandai berdalih untuk menghindari segala macam tanggung jawab.

Setiap kali si ibu menyuruh membersihkan kamar atau sepatunya sendiri, ia dengan segera menjawab, “Aaaah… Ibu. Kan, ada si Bibi yang bisa mengerjakan semua itu. Lagian, untuk apa dibersihkan, toh nanti kotor lagi.” Demikian pula jika diminta untuk membantu membersihkan rumah atau tugas lain saat si pembantu pulang. Anak itu selalu berdalih dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.

Ayah dan ibu sangat kecewa dan sedih melihat kelakuan anak tunggal mereka. Walaupun tahu bahwa seringnya memanjakan anaklah yang menjadi penyebab sang anak berbuat demikian. Mereka berpikirkeras, bagaimana cara merubah sikap si anak? Mereka pun berniat memberi pelajaran kepada anak tersebut.

Suatu hari, atas kesepakatan bersama, uang saku yang rutin diterima setiap hari, pagi itu tidak diberikan. Si anak pun segera protes dengan kata-kata kasar, “Mengapa Papa tidak memberiku uang saku? Mau aku mati kelaparan di sekolah, ya?”

Sambil tersenyum si ayah menjawab, “Untuk apa uang saku, toh nanti habis lagi?”

Demikian pula saat sarapan pagi, dia duduk di meja makan tetapi tidak ada makanan yang tersedia. Anak itu pun kembali berteriak protes, “Ma, lapar nih. Mana makanannya? Aku buru-buru mau ke sekolah.”

“Untuk apa makan? Toh nanti lapar lagi?” jawab si ibu tenang.

Sambil kebingungan, si anak berangkat ke sekolah tanpa bekal uang dan perut kosong. Seharian di sekolah, dia merasa tersiksa, tidak bisa berkonsentrasi karena lapar dan jengkel. Dia merasa kalau orangtuanya sekarang sudah tidak lagi menyayanginya.

Pada malam hari, sambil menyiapkan makan malam, sang ibu berkata, “Anakku. Saat akan makan, kita harus menyiapkan makanan di dapur. Setelah itu, ada tanggung jawab untuk membersihkan perlengkapan kotor. Tidak ada alasan untuk tidak mengerjakannya dan akan terus begitu selama kita harus makan untuk kelangsungan hidup. Sekarang makan, besok juga makan lagi. Hari ini mandi, nanti kotor, dan harus juga mandi lagi. Hidup adalah rangkaian tanggung jawab, setiap hari harus mengulangi hal-hal baik. Jangan berdalih, tidak mau melakukan ini itu karena dorongan kemalasan kamu. Ibu harap kamu mengerti.”

Si anak menganggukkan kepala, “Ya Ayah-Ibu, saya mulai mengerti. Saya juga berjanji untuk tidak akan mengulangi lagi.”

Pembaca yang berbahagia,
Dalam kehidupan, kita selalu memikul tanggung jawab. Sedari kecil, remaja, dewasa, hingga tua, kita akan terus menerus melakukan aktivitas-aktivitas kecil maupun besar sebagai bentuk kewajiban yang kita emban. Dan, jika kita mengabaikannya, dampak negatif akan kita rasakan. Karena itu, hanya dengan selalu melakukan kebiasaan positif, dengan kesadaran penuh dan dilakukan secara terus menerus, maka sikap tanggung jawab akan menjadi ciri khas kita yang dapat membawa diri pada kehidupan yang lebih baik dan lebih bermutu. by:http://trusttogod.wordpress.com/tag/artikel-terbaru/

Baca selengkapnya......

Sedia Payung Sebelum Hujan

Bacaan: Kejadian 41

Waktu kecil, ketika saya pertama kalinya menerima uang saku, senengnya bukan main. Ayah saya memberikan uang saku sekali seminggu. Tentunya beliau ingin mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana mengelola uang meski tidak banyak. Hari Minggu adalah hari yang paling ditunggu karena itulah “hari gajian” kami. Anak-anak menerima uang jajan untuk dipergunakan di hari Senin sampai Sabtu mendatang. Pertama-tama, karena belum pernah pegang uang sebelumnya, saya membelanjakan uang itu untuk membeli jajanan yang saya inginkan di sekolah. Tak terasa uang sudah habis di hari kedua. Akibatnya, saya harus puasa jajan selama hari Rabu sampai
Sabtu. Itulah pelajaran pertama dalam hidup saya, bagaimana pentingnya mengelola keuangan.

Hari-hari ini dunia sedang menggeliat kesakitan karena krisis ekonomi. Krisis besar-besaran ini adalah krisis keuangan terbesar sepanjang dunia modern. Resesi global sudah mulai terjadi diawali dari Amerika yang selama ini diyakini sebagai negara terkuat. Bahkan negara-negara yang selama ini dianggap maju dan stabil seperti Singapura dan Inggris telah merasakan dampaknya. Sebagai anak muda yang ngakunya modern ;) jangan sampai kita enggak tau apa-apa soal hal ini. Kalo selama ini kita sudah terbiasa hidup nyaman dalam kelimpahan, sekaranglah waktunya kita menggantinya dengan gaya hidup hemat sebelum terlambat.

Girls, kita memang punya Tuhan yang senantiasa sanggup mencukupi kebutuhan kita. Kita punya Allah yang enggak terbatasi resesi untuk memberkati kita. Tapi Tuhan tidak menghendaki kita hidup seperti orang bebal. Kita bisa meneladani Yusuf yang penuh hikmat Allah, mempersiapkan diri menjelang masa kelaparan selama 7 tahun, bahkan menyelamatkan hidup suatu bangsa yang besar. (Kej. 50:20)

Mulai sekarang kita harus lebih bijak dalam mengatur keuangan kita. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari gara-gara kebodohan kita sendiri. Hiduplah dengan hemat dan bijaksana. Malam minggu enggak selalu harus jalan-jalan ke mall (yang artinya bakalan bikin kita jadi pengen ini itu). Rutinlah menabung dan rencanakanlah pengeluaran dengan baik (bukan hanya membuat catatan pengeluaran saja). Enggak perlu kuatir akan hari esok, selama kita hidup dalam kehendak Tuhan. Okay, girl... be smart!

Baca selengkapnya......